Pengumuman: saya ingin berbagi analisa dan pengalaman ttg ‘intel” di Indonesia. Ini bisa disebut “kul-twit” atau bukan, tak penting. #int
1. Sejak awal, OrdeBaru punya satu penyangga di antara penyangga lain dlm kekuasaannya: operasi intel. #int
2. Sebenarnya peyangga kekuatan Or=Ba bukan militer secara fisik. Jumlah ABRI tak sampai satu juta di negeri sekitar 200 juta manusia.#int
3. Penyangga Or-Ba utama: ketakutan di masyarakat. Pembunuhan + penangkapan besar-besaran di tahun 1965-66 membuat orang banyak jeri. #int
4. Suasana ketakutan itu menyebarkan paranosia massal. Bersama itu, berkembang obsesi untuk ber-”rahasia” dan berdesas-desus. #int
5. Rezim ‘Or-Ba’ makin memperkuat suasana jiwa itu. Dinas Intel punya satu departemen yg sibuk: menyebarkan kabar bohong yg menakutkan. #int
6. Cerita adanya mutilasi thd badan para jenderal yg dibunuh G30S di Lobang Buaya oleh Gerwani yg menari-nari adalah berita bohong.#int
7. Berita bohong ini disebarkan lewat harian militer, “Berita Yudha”, misalnya. Dis-informasi Ini bagian propaganda menciptakan stigma. #int
8. Kini sdh bisa diperoleh otopsi resmi tim dokter yg dipimpin Prof. Mahar Mardjono th 1965 yg membantah kisah mutilasi itu.#int
9. Dgn dis-informasi itu, Gerwani dll kena “stigma” sbg kekuatan yg menakutkan. Maka pembasmian thd mereka dpt dukungan rakyat. #int
10. Penyebaran dis-informasi oleh Dinas Intel makin subur, ketika media tak boleh menyebarkan informasi tandingan. #int
12. Saya pernah jadi sasaran dis-informasi itu. Di tahun 1969, ada koran asing menulis ttg kongkalikong “cukong” dan pejabat Or-Ba.#int
13. Tulisan itu diterjemahkan koran “Nusantara” yg kemudian dibredel. Penguasa Or-Ba marah. Jend. Ali Moertopo mengumpulkan wartawan.#int
14. Dlm brifing “rahasia” itu, sang jendral mengungkapkan bhw saya (GM) yg menerjemahkan tulisan itu dgn dibayar penerbit “Nusantara”. #int
15. Padahal saya tak pernah baca tulisan itu dan tak pernah kenal dgn penerbit “Nusantara”. Fitnah begini makin lama makin lazim. #int
16. Fitnah itu — bagian dari dis-informasi — kelihatan “logis” karena khalayak yg terkena paranoia mudah menerima desas-desus apapun. #int
17. Teknik “dis-informasi” intel itu sebenarnya sudah ada sebelum Or-Ba. Di tahun 1962, para pemimpin Masyumi + PSI dipenjarakan. #int
18. Oleh intel, mereka dituduh merencanakan mau menggulingkan Bung Karno (waktu itu sdh jadi “Pemimpin Besar Revolusi”). #int
19. Orang2 itu, yg bertemu di Bali utk acara pernikahan di Puri Gianyar, atas undangan Anak Agung Gde Agung, ditangkap, tanpa diadili. #int
20. Di masa Or-Ba, yang mencolok adalah Peristiwa Malari. Dinas Intel Or-Ba menuduh sejumlah orang mendalangi pertiswa itu. #int
21. Sebuah “buku putih” diterbitkan, disusun seorang wartawan, yg mengarang-ngarang teori siapa yg di belakang Malari. #int
22. Katanya, mereka ini tokoh2 “PSI dan Masyumi”. Maka ditangkaplah Buyung Nasution, Marsillam Simanjuntak, Mochtar Lubis. #int
24. Dis-informasi dan kabar bohong jadi teknik yg aman bagi intelijen, sebab tak ada pers bebas, tak ada peradilan bebas dan terbuka.#int
25. Tuduhan thd Budiman Sudjatmiko dkk sbg penggerak peristiwa 27 Juli (yg menyebabkan mereka ditahan dan disiksa) juga bohong.#int
26. Ketika “peristiwa 27 Juli” terjadi, Budiman bersama saya, Marsillam dan Arif Budiman. Dia tak tahu ketika kerusuhan meledak. #int
27. Kebiasaan menyebarkan dis-informasi yg tak pernah dibantah ini membuat mutu intel Indonesia merosot. Bisa kerja seenaknya. #int
28. Sebab yg penting bukanlah informasi yg akurat, tapi hancurnya “musuh” politik. Maka pernah ada kejadian yg lucu tapi benar.#int
29. Di satu diskusi, Gus Dur dijadwalkan bicara. Para intel siap ngintip. Seorang dari mereka tanya kpd seorang tamu: Gus Dur mana? #int
30. Tamu itu menunjukkan Gus Dur yg sdh duduk di kursi depan. Sang intel nggak percaya” “Lha itu kan K.H. Abdurahman Wahid?” #int
31. Di masa itu ada orang2 yg anggap jadi intel itu pekerjaan jahat. Tapi tak sedikit yg suka bangga, malah mengaku “saya intel, lho#.#int
32. Sebab “intel” itu dianggap “tahu rahasia” dan “pintar”. Dgn itu ada kekuasaan. Juga kekuasaan utk menakut-nakuti orang lain.#int
33. Saya tak heran jika masih ada sampai sekarang orang2 yg pasang aksi sbg “intel”. #int
34. Kini media bebas. Tapi justru itu banjir informasi. Orang pun bingung mana yg harus dipegang. Nah, disinformasi bisa efektif. #int
35. Dis-informasi itu sekarang bukan utk buat orang jadi tahanan politik, tapi utk kepentingan lain: membuat stigma buruk pada “lawan”. #int
36. Supaya dis-informasi tak jelas bedanya dgn informasi, di antara kabar bohong sering diselipkan informasi yg benar. Biar meyakinkan.#int
36. Sekian dulu paparan saya. Sekarang saya coba jawab beberapa pertanyaan. #int
By: gm_gm
Source: http://go.twipresent.com/4p